
Banyuwangi – Detikposnews.com // Kelangkaan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram atau yang biasa dikenal dengan sebutan “gas melon” mulai dikeluhkan warga di wilayah Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi. Dalam dua hari terakhir, masyarakat mengaku kesulitan mendapatkan tabung gas subsidi tersebut, meskipun pemerintah sebelumnya memastikan ketersediaan stok dalam kondisi aman.
Kondisi di lapangan justru berbanding terbalik dengan pernyataan resmi yang disampaikan pemerintah daerah dan pihak Pertamina. Sejumlah warga mengaku harus berkeliling dari satu desa ke desa lain hanya untuk mencari satu tabung gas melon, namun tetap tidak mendapatkannya. Minggu (15/03/2026)
Dihimpun dari pemberitaan BWI 24JAM yang ramai beredar di media sosial Sabtu 14 Maret 2026, kelangkaan elpiji 3 kilogram terjadi di beberapa desa di Kecamatan Sempu, mulai dari Desa Gendoh, Temuguruh, hingga wilayah perbatasan Genteng. Banyak pengecer yang disebut-sebut kehabisan stok, bahkan beberapa di antaranya mengaku barang sudah dipesan oleh pelanggan lain.
Salah satu warga bernama Mamazi mengaku sudah dua hari berkeliling mencari gas melon namun tidak berhasil mendapatkannya. Karena kebutuhan memasak mendesak, ia akhirnya terpaksa membeli gas non-subsidi dengan harga yang jauh lebih mahal.
“Saya dari dua hari lalu sudah muter-muter Genteng sampai Sempu, gas melon kosong tidak dapat. Akhirnya beli tabung pink (Bright Gas) daripada tidak bisa masak,” keluhnya dalam pesan singkat yang dibagikan di media sosial, Sabtu (14/3/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lainnya bernama Putri. Ia mengaku telah mencari gas di sejumlah wilayah namun tetap tidak mendapatkan stok.
“Aku tadi dari Gendoh, Tanah Miring, Karangsari, Karanganyar kosong semua. Ada satu toko tapi katanya sudah pesanan orang. Bingung besok jualan bagaimana kalau gas habis total,” tulisnya.
Situasi ini membuat masyarakat mulai khawatir, terutama bagi pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada gas elpiji 3 kilogram untuk kegiatan sehari-hari seperti berdagang makanan.
Di sisi lain, pemerintah daerah sebelumnya telah memastikan bahwa stok elpiji 3 kilogram di Banyuwangi dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, saat melakukan inspeksi mendadak bersama pihak Pertamina di sejumlah agen pada Kamis (12/3/2026). Dalam sidak tersebut, pemerintah memastikan distribusi gas berjalan normal dan tidak ada kekurangan pasokan.

“Dari Pertamina dan agen menyampaikan stok aman. Sudah dialokasikan sesuai kebutuhan, bahkan Pertamina siap menambah kuota untuk Banyuwangi hingga 250 persen. Jadi masyarakat jangan panik,” tegas Mujiono saat meninjau agen PT Pelangi Migas Abadi di wilayah Rogojampi.
Sementara itu, Sales Branch Manager Malang VI Gas Pertamina Patra Niaga, M. Salman Al Farisi, juga menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan tambahan pasokan guna mengantisipasi lonjakan konsumsi menjelang Lebaran.
Ia menyebutkan bahwa kuota normal untuk wilayah Banyuwangi mencapai sekitar 63.500 tabung per hari. Namun untuk menghadapi peningkatan kebutuhan masyarakat, Pertamina akan menambah pasokan hingga 250 persen mulai hari Minggu.
“Untuk hari biasa kuota Banyuwangi sebesar 63.500 tabung per hari. Mulai hari Minggu kuota akan kami tambah hingga 250 persen, dan pengiriman siap dilakukan setiap hari,” jelas Salman.
Selain itu, Pertamina juga menegaskan bahwa Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 kilogram di Banyuwangi tetap berada di angka Rp18.000 per tabung.
Meski demikian, kondisi di lapangan masih menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat. Beberapa warga menduga adanya praktik penimbunan atau permainan distribusi di tingkat pengecer.
Seorang warga bernama Tohari mengaku menemukan sejumlah kejanggalan saat mencari gas melon di beberapa wilayah.
“Stok aman di pangkalan, tapi di lapangan beda lagi. Kemarin saya start dari Karangsari sampai Rogojampi slot kosong. Katanya sudah pesanan orang. Kemungkinan ditimbun, baru dikeluarkan H+1 atau H+2 tapi dengan harga ‘ngelos’ atau di atas HET,” ungkapnya.
Perbedaan kondisi antara klaim stok aman di tingkat agen dengan kenyataan kosongnya gas di tingkat pengecer membuat masyarakat berharap adanya pengawasan yang lebih ketat dari pihak berwenang.
Warga berharap aparat kepolisian bersama dinas terkait tidak hanya melakukan pengawasan di tingkat agen besar, tetapi juga memantau distribusi hingga ke pangkalan dan pengecer di desa-desa. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada oknum yang memanfaatkan situasi dengan menimbun gas atau menjualnya di atas harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Jika tidak segera ditangani, masyarakat khawatir kelangkaan gas melon ini akan semakin meluas dan berdampak pada aktivitas rumah tangga maupun usaha kecil yang sangat bergantung pada elpiji bersubsidi tersebut. (Red)






