Foto : Sufyadi (Aktivis muda Kangean)
Oleh : Sufyadi
SUMENEP – Detikposnews.com // Pelaksanaan survei seismik Migas di wilayah perairan Pulau Kangean, yang menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat hingga aksi penolakan dari sekelompok masyarakat yang mengkhawatirkan potensi dampak lingkungan dan implikasi sosial-ekonomi yang ditimbulkannya. Situasi itu menjadi sorotan Sufyadi seorang aktivis muda Pulau Kangean. Minggu (19/10/2025)
Menurutnya, aksi penolakan semacam itu merupakan sikap kritis yang patut diapresiasi, sebab partisipasi publik dalam mengawal kebijakan pembangunan merupakan wujud nyata dari demokrasi lokal.
” Namun, sikap kritis itu menjadi lucu karena tidak pernah mempertanyakan bahaya yang lebih besar dan merusak anak bangsa. Bahkan, sorotan dan gelombang penolakan sekeras itu tidak tampak ketika persoalan narkoba semakin merajalela di Pulau Kangean., ” ujarnya. Minggu (19/10/2025)
Tak hanya itu, mengapa deklarasi besar-besaran tidak pernah digelar saat harga BBM tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET ), Narkoba yang semakin merusak anak muda Pulau Kangean, motor bodong bebas berkeliaran di jalanan, yang tentunya akan mengancam keselamatan dan menyalahi aturan hukum yang berlaku.
“:Jadi, ketika kita berbicara Survei seismik mungkin memunculkan polemik tentang dampak jangka panjang terhadap lingkungan. akan tetapi ancaman narkoba jauh lebih jelas, langsung, dan nyata. Ia merampas masa depan generasi muda, melumpuhkan potensi sumber daya manusia, dan melemahkan daya saing masyarakat lokal, ” tegas Sufyadi.
Dalam perspektif pembangunan sosial, ancaman narkoba dan lemahnya ketertiban jauh lebih destruktif ketimbang kekhawatiran terhadap gelombang seismik di dasar laut. Generasi Kangean tidak akan hilang hanya karena survei seismik, tetapi bisa hancur jika narkoba dibiarkan merajalela tanpa perlawanan yang berarti.
” Motor bodong pun, jika terus dibiarkan, akan menormalisasi pelanggaran hukum di tengah masyarakat. Sebuah kondisi yang perlahan meruntuhkan wibawa negara dan moralitas publik, ” terangnya.
Poin penting dari kritik ini bukanlah menolak aspirasi masyarakat terhadap isu lingkungan. Justru sebaliknya, keberanian yang ditunjukkan dalam menyuarakan penolakan seismik seharusnya juga diarahkan dengan kadar yang sama, atau bahkan lebih keras, dalam menghadapi musuh yang sudah terbukti menghancurkan ” Narkoba, pelanggaran hukum, dan lemahnya penegakan aturan di tingkat lokal “.
Kangean membutuhkan energi moral yang kolektif. Deklarasi keras terhadap narkoba harus menjadi prioritas. Gerakan kolektif menertibkan motor bodong pun semestinya lahir dari kepedulian yang sama dengan isu eksploitasi Migas. Karena masa depan generasi tidak ditentukan oleh survei seismik semata, melainkan oleh seberapa tangguh masyarakat melawan ancaman sosial yang paling dekat, paling nyata, dan paling berbahaya yaitu ” NARKOBA “.
(Myd)






