Foto : Aktivis Kesehatan dan Pemerhati Etik, Rasyid Nadyn
SUMENEP – Detikposnews.com // Pernyataan konsultan hukum Rumah Sakit Islam (RSI) Kalianget, Rausi Samorano, terkait isu keberadaan dokter yang disebut pernah mengalami gangguan kejiwaan, namun tetap dipekerjakan di rumah sakit tersebut mendapat sorotan dari Rasyid Nadyin, sosok aktivis kesehatan dan pemerhati etika medis wilayah Kabupaten Sumenep. Kamis (16/10/2025)
Sebelumnya, melalui WhatsApp Group ADV/PKP Rausi Sumorano menegaskan bahwa tidak semua pasien dokter spesialis kejiwaan (Sp.Kj) dapat disebut “gila”, dan bahwa kondisi kejiwaan seseorang tidak otomatis membuatnya tidak layak bekerja.
” Tidak semua pasien dokter Sp.Kj itu gila. Gangguan kejiwaan bisa disebabkan oleh stres, depresi, atau hal-hal lain yang bersifat sementara. Bahkan dokter pun manusia, bisa mengalami stres ringan karena tekanan pekerjaan. Namun, penilaian kelayakan kerja tetap berdasarkan rekomendasi dokter spesialis kejiwaan yang berwenang,”ujar Rausi. Kamis (16/10/2025)
Menurutnya, rekomendasi dokter Sp.Kj itu yang dijadikan pegangan secara medis bagi pihak rumah sakit, tempat yang bersangkutan bekerja.
” Apakah yang bersangkutan masih bisa di bagian pelayanan atau perlu dipindahkan sementara ke bagian non pelayanan,” tambahnya.
Menanggapi pernyataan itu, Rasyid Nadyn menyayangkan sikap RSI yang terkesan permisif terhadap potensi risiko yang bisa mengganggu kenyamanan pasien.
” Pertanyaannya sederhana, apakah RSI Kalianget tidak bisa merekrut dokter yang benar-benar tidak bermasalah. Jangan sampai masyarakat dibuat cemas,” ujar Rasyid kepada wartawan, Rabu (16/10/2025).
Ia menegaskan, rumah sakit seharusnya mengutamakan langkah preventif untuk melindungi pasien dan menjaga kepercayaan publik.
” Jangan tunggu ada korban. Dalam dunia medis, pencegahan jauh lebih baik daripada penyesalan. Keselamatan pasien adalah hal utama,” tegasnya.
Rasyid juga mengkritik pernyataan Yanti, Humas RSI, yang sebelumnya menyebut bahwa rumah sakit akan menindaklanjuti bila ada keluhan dari pasien.
” Pernyataan itu keliru dan berbahaya. Kalau menunggu keluhan berarti pasien dijadikan kelinci percobaan. Rumah sakit harus bertindak sebelum ada masalah, bukan sesudah,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia pun mendesak manajemen RSI Kalianget bagian SDM untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tenaga medis, baik secara fisik maupun psikologis, agar pelayanan kesehatan tetap profesional, aman, dan beretika.
” Rumah sakit adalah tempat mencari kesembuhan, bukan sumber ketakutan,” pungkas Rasyid. (Myd)









