
Sumatra Barat, Bandung – Detikposnews.com // Kontingen pelajar Sumatra Barat tetap berlaga di National Student Sport Competition (NSSC) 2025 di Bandung, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Mereka berhasil menunjukkan semangat juang dan prestasi yang membanggakan, bahkan menjadi kontingen favorit di ajang tersebut.
Kejuruaan Nasional Student Sport Kompetition ( NSSC ) 2025 di GOR sijalak Harupat,Kabupaten Bandung, Menjadi Arena Pembuktian saya Juang Pelajar Indonesia Sumatra Barat, Bagi Kontingen Pelajar Sumatra Barat, Ajang yg Berlangsung Pada : 26 – 28 Desember 2025 itu Berubah Menjadi Panggung Keteguhan Mental,Solidaritas dan Keberanian Mengambil Keputusan di Tengah Krisis Bencana Alam.
Sekitar 1.300 Peserta dari 13 Provinsi Mengikuti Kejuaraan Tingkat Nasional Tersebut, Dua Kontingen Sumatra Barat dari Kota Bukittinggi dan Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam Ikut Ambil Bagian, Kontingen dari Tanjung Raya Mencuri Perhatian Karena Berangkat di Tengah Dampak Lonsor dan Banjir Bandang yg Melumpuhkan Wilayah Sekitar Danau Maninjau.
Para atlet Pendamping dari Tanjung Raya Memilih Tetap Berangkat Meski Jalur Darat Terputus dan Situasi Daerah Belum Pulih, Mereka Menempuh Jalan Darat Selama Tiga Hari Tiga Malam Dengan Risiko Tinggi, Keputusan Itu Lahir Dari Satu Kesadaran Bersama:Latihan Panjang dan Persiapan Serius tidak Boleh Berakhir Tanpa Pertandingan.
Mereka Membawa Misi Sederhana Namun Kuat, yakni Menjaga Martabat dak Erah dan Membuktikan Bahwa Pelajar dari Wilayah Terdampak Bencana Tetap Mampu Bersaing di Level Nasional, Rizal, Pelatih Kontingen Tanjung Raya, Berdiri di Garis Terdepan Perjuangan Ini, Rizal Sehari – hari Mengelola Usaha Kerambak Jaring Ikan Terapung di Danau Maninjau Dengan Ikan Nila Sebagai Sumber Penghasilan Utama, Rizal Bahkan Sudah Menyiapkan Hasil Panen untuk Membiayai Keberangkatan Para Atlet, “Pas Mau Berangkat, Memang Sudah Saya Siapkan Biaya Buat Berangkat. Ada Ikan Satu Kotak yg Mau dipanen,” Kata Rizal Sambu : 27 Desember 2025,Namun Banjir Bandang dan Longsor Mengubah Segalanya.
Akses Jalan di Selingkar Danau Maninjau Terputus, Debit Air Danau Meningkat, dan Kondisi Air Berubah Keruh,”Karena debit Air Kuat, Air Danau Besar dan Keruh. Dari Dasar Danau Keluar Belerang. Racun Belerang Itu Bikin Ikan – ikan Mati,” Ujarnya,”Dalam Waktu Singkat, Rizal Kehilangan Sumber Dana yg Iya Andalkan. Meski Demikian, Ia Menolak Membiarkan Mimpi Atletnya Runtuh,” Saya Kasihan Sama Anak – anak, Mereka Sudah Latihan Keras,” Sampai Joging Hujan – hujanan, Akhirnya Saya Minjam Sama Orang Buat Biaya Anak – anak Saya,” Tutur Rizal.
Di antara Atlet yg Berangkat, Nurul Nikmatu Safaah Menghadapi Situasi Paling Kompleks, Nurul Tinggal di Pengungsian Akibat Banjir Bandang yg Merusak Lingkungan Tempat Tinggalnya, iya Harus Meninggalkan Rumah dan Hidup di Bangunan Tua Bekas Peninggalan Belanda yg Kini Berfungsi Sebagai Lokasi Pengungsian,” Sekarang Tinggal di Pengungsian,” Kata Nurul, iya Menjelaskan Bahwa,Jumlah Penghuni Terus Bertambah,” Awalnya 16 Orang,” Sekarang Bertambah 50 Orang,” Kondisi Bencana Juga Berdampak Lansung Pada Administrasi Sekolahnya.
Nurul Berakat Ke Bandung Tanpa Membawa Surat Rekomendasi dari Sekolah Karena SMA Negeri 1 Tanjungraya di Tutup Sementara Akibat terdampak Banjir Bandang, Situasi itu tidak Mengendurkan Tekatnya Untuk Bertanding, Beberapa dgn Nurul,Kesha Khairinniswa Tidak Tinggal di Pengungsian, Namun Keduanya Sama – sama Memegang Komitmen Untuk Tetap Tampil Maksimal Setelah Menjalani Latihan Panjang Demi Mengejar Prestasi.
Kehadiran Kontingen Sumatra Barat di NSSC 2025 Menegaskan Bahwa Olahraga Pelajar tidak hanya Berbicara Soal Mendali, Ajang ini Merekam Kisah Ketahanan Sosial, Kepemimpinan Pelatih, dan Keberanian Atlet Muda Mengambil Risiko di Tengah Ketidak Pastian,dari Pengungsian di Tanjung Raya Hingga Arena Nasional di Bandung, Nurul dan Rekan – rekanya Menunjukkan Bahwa Bencana Tidak Selalu Memadamkan Harapan, dalam Keterbatasan, Mereka Memilih Melangkah, NSSC 2025 Pun Mencatat Mereka Bukan Sekedar Bagian Peserta, tetapi Sebagai Simbol Keteguhan Pelajar Indonesia Menghadapi Keadaan Paling Sulit.
(Rismanto Agam)






