
Tebing Tinggi – Detikposnews.com // Tugu perjuangan 13 Desember yang berada di Jalan Pahlawan pada malam hari gelap gulita
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Kota Tebing Tinggi, berdiri sebuah tugu yang seharusnya menjadi penanda ingatan kolektif dan kebanggaan sejarah.
Namun ironisnya, saat malam tiba, tugu perjuangan itu justru tenggelam dalam gelap—seolah dilupakan oleh kota yang ia bela dengan darah dan nyawa.
Alih-alih diterangi pencahayaan khusus yang layak, keberadaan tugu tersebut hanya “diselamatkan” oleh cahaya seadanya dari lampu pedagang kaki lima di sekitarnya. Kondisi ini bukan hanya mengurangi nilai estetika, tetapi juga mencederai makna sakral tugu yang menjadi simbol perjuangan rakyat Tebing Tinggi.
Sejarah mencatat, tugu tersebut bukan sekadar ikon tanpa arti. Ia adalah penanda peristiwa kelam sekaligus heroik pada 13 Desember 1945, saat masyarakat Tebing Tinggi bangkit melawan penjajah. Banyak korban berjatuhan demi mempertahankan harga diri dan kemerdekaan. Maka, membiarkan tugu perjuangan itu redup di malam hari, sama saja dengan membiarkan ingatan sejarah ikut memudar.
Menurutnya, kurangnya perhatian Pemerintah Kota Tebing Tinggi terhadap pemeliharaan tugu perjuangan mencerminkan lemahnya kepedulian terhadap nilai sejarah.

“Ini bukan soal lampu semata, tetapi soal penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu,” ujarnya,Rabu (25/02/2026).
Lanjut Anggi, secara letak, tugu tersebut sangat strategis—berada di sudut Lapangan Merdeka, pusat berkumpulnya masyarakat.
Jika Pemko Tebing Tinggi mau memaksimalkan penataan dan pencahayaan tugu secara serius, kawasan ini berpotensi menjadi magnet aktivitas malam hari. Warga dan pendatang bisa datang untuk sekadar bersantai, menikmati suasana kota, sekaligus menggerakkan roda UMKM yang ada di pusat kota.
Sayangnya, potensi itu seperti dibiarkan berlalu begitu saja. Kota seolah lupa bahwa estetika ruang publik dan penghormatan terhadap sejarah bisa berjalan beriringan. Tugu perjuangan bukan beban anggaran, melainkan investasi identitas dan kebanggaan kota.
Sudah saatnya Pemko Tebing Tinggi berhenti menganggap tugu perjuangan sekadar pelengkap lanskap kota. Pencahayaan yang layak, penataan lingkungan yang tertib, serta narasi sejarah yang hidup adalah bentuk penghormatan paling minimal terhadap para pejuang yang telah mengorbankan segalanya.
“Karena kota yang besar bukan hanya dibangun dengan beton dan lampu jalan, tetapi dengan ingatan, penghormatan, dan keberanian untuk merawat sejarahnya sendiri,
(K.Saragih)





