Foto (dok) : Owner PT. Mulya Anugerah Sumekar, Molyadi.
SUMENEP–Detikposnews.com// PT. Mulya Anugerah Sumekar, sebuah perusahaan lokal berlokasi di Dusun Lojikantang, Desa Kalianget Barat, Kabupaten Sumenep, sungguh menarik perhatian banyak pihak dengan produksi garamnya yang berkualitas “super.”
Kualitas garam super yang diproses oleh Owner asal putra daerah Sumenep bernama Molyadi warga Dusun Lojikantang, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Sumenep itu memicu pertanyaan tentang metode produksi yang digunakan, serta strategi perusahaan untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Menurut owner PT. Mulya Anugerah Sumekar, Molyadi sosok yang dikenal dermawan, taat ibadah dan berlatar belakang dari keluarga ekonomi rendah mengungkapkan bahwa kunci utama garam yang diproduksinya berkualitas super terletak pada perbedaan proses produksi sejak awal.
” Dari awal proses itu sudah beda,” jelasnya. Rabu (17/12/2025)
Perbedaan proses itu mencakup perencanaan awal, pematangan lahan, evaporasi, hingga kristalisasi.
” Kita juga membedakan dengan strategi atau metode. Metodenya itu yang membuat hasilnya beda dengan yang lain,” ujarnya.
Tambahnya, ia menegaskan bahwa metode adalah kunci utama untuk menghasilkan kualitas produksi garam.

Metode yang digunakan PT Mulya Anugerah Sumekar melalui hilirisasi yang menggunakan bak kontrol dan pengolahan air yang spesifik, disesuaikan dengan lahan yang berbeda-beda. Ini bukan sekadar proses biasa, melainkan hasil “kajian ilmiah” selama dua tahun di lapangan.
” Dasarnya itu yang tidak bisa ditiru atau dilakukan orang lain,” ungkapnya.
Ia menekankan keunikan dan kepemilikan rumus produksi tersebut melalui proses yang panjang dan belum tentu bisa dilakukan oleh petani garam lainnya.
Terkait harga, garam berkualitas super ini memiliki harga yang berbeda. Logikanya, perbandingan berkualitas dan tidak berkualitas tentu akan mempengaruhi terhadap perbedaan harga.
“Kalau nggak dibedakan nanti, ya gimana. Kenapa nggak kerjakan seperti yang lain saja?” guraunya kepada media Detikposnews.com yang menyiratkan bahwa kualitas premium tentu berbanding lurus dengan harga.

Meskipun hasil produksi garamnya berkualitas tinggi, ia mengaku menghadapi tantangan dalam pemasaran, terutama terkait perizinan. Namun, optimisme tinggi terpancar dari tekad dan keyakinannya bahwa semua sudah terselesaikan secara bertahap.
” Banyak permintaan garam baik nasional maupun internasional karena kebutuhan, jelas itu. Sebenarnya garam itu tergantung dengan cuaca,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya tidak membutuhkan garam impor jika cuaca mendukung produksi lokal. Saat ini, impor terjadi karena produksi lokal tidak mencukupi.
Ke depan, PT Mulya Anugerah Sumekar memiliki visi besar untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan baku. Tentunya, dukungan pemerintah daerah sacara konkret sangat dbutuhkan untuk memfasilitasi kemudahan perijinan dan pengembangan pemasarannya.
” Kita akan mengeluarkan garam spesifikasi kita sendiri, akan dikemas di branding kita sendiri,” jelas Molyadi.
Perusahaan ini akan melakukan hilirisasi penuh, memproduksi dan memasarkan produk jadi olahan sendiri, agar tidak hanya ” yang menikmati orang luar ” yang mengolah bahan baku berkualitas tinggi.
“Kita maunya ada hilirisasi, ya benar,” tegasnya.
Ini adalah upaya agar tidak bergantung pada pihak lain, mengembangkan sumber daya manusia dan alam secara mandiri, serta membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing dan bahkan memimpin pasar dengan kualitasnya.
Keberadaan PT. Mulya Anugerah Sumekar yang modalnya tidak bergantung kepada APBD dan APBN menjadi wadah yang harus diatensi dan didukung penuh oleh pemerintah daerah dalam penguatan produksinya agar berkembang. Sebab, kemandiriannya telah berkontribusi besar terhadap pemerintah daerah dalam mengentas pengangguran dengan propabilitas lapangan kerja yang ada. (Myd)








