
Opini – Detikposnews.com // Baru saja semua sekolah selesai melaksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk sekolah dilingkungan Kementrian Pendidikan Nasional atau Matamuda (Masa Taaruf Murid Madrasah) untuk madrasah di bawah naungan Kementrian Agama. Setelah itu semua siswa akan memasuki masa kegiatan belajar mengajar kembali.
Senyampang diawal dari seluruh proses di tahun ajaran baru ini, bolehlah kita kembali membaca kebelakang apa saja yang sudah dilalui oleh setiap lembaga pendidikan. Sambil mencari kemungkinan apa-apa yang perlu terus diperbaiki kedepannya dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Setiap tahun, sekolah merayakan kelulusan. Nilai diumumkan, ijazah dibagikan, dan siswa melangkah menuju jenjang berikutnya. Bagi sebagian orang, kelulusan menjadi ukuran utama keberhasilan sebuah sekolah. Semakin tinggi angka kelulusan dan semakin banyak lulusan yang diterima di sekolah atau perguruan tinggi favorit, semakin baik pula citra lembaga pendidikan tersebut.
Namun, benarkah tugas sekolah selesai ketika siswa dinyatakan lulus?
Pertanyaan itu layak direnungkan, terlebih di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), derasnya arus informasi, serta tantangan sosial yang semakin kompleks menunjukkan bahwa pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan pengetahuan. Sekolah dituntut untuk menyiapkan manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter kuat, berempati kepada sesama, disiplin dalam bertindak, dan bijak menggunakan teknologi.
Pada hakikatnya, sekolah bukanlah pabrik yang menghasilkan lulusan, melainkan taman tempat manusia bertumbuh. Ijazah memang penting, tetapi karakter jauh lebih menentukan masa depan seseorang. Sebab, dunia kerja dan kehidupan sosial tidak hanya membutuhkan orang yang cerdas, tetapi juga orang yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Kabupaten Banyuwangi memberikan banyak contoh bagaimana pendidikan karakter dapat tumbuh dari lingkungan sekitar. Daerah ini dikenal sebagai wilayah yang kaya akan budaya, tradisi gotong royong, serta keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan. Nilai-nilai lokal tersebut sesungguhnya merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk membangun pendidikan yang lebih manusiawi.
Sekolah di Banyuwangi memiliki peluang besar menjadikan budaya lokal sebagai media pembelajaran karakter. Ketika siswa diajak mengenal tradisi daerah, menghormati perbedaan, menjaga lingkungan, dan terlibat dalam kegiatan sosial di masyarakat, sesungguhnya mereka sedang belajar menjadi manusia yang utuh. Pendidikan tidak lagi berhenti pada hafalan materi, tetapi menyentuh pembentukan sikap dan kepribadian.
Karakter tidak lahir melalui ceramah yang panjang. Ia tumbuh dari keteladanan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar. Guru yang datang tepat waktu sedang mengajarkan disiplin. Kepala sekolah yang jujur sedang mengajarkan integritas. Orang tua yang menghargai orang lain sedang menanamkan empati kepada anak-anaknya.
Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh menjadi program seremonial yang hanya tampak pada spanduk atau slogan di dinding sekolah. Karakter harus hadir dalam budaya sekolah sehari-hari. Mulai dari cara guru menyapa siswa di pagi hari, cara warga sekolah menyelesaikan konflik, hingga bagaimana sekolah memperlakukan setiap anak tanpa membedakan latar belakang ekonomi maupun kemampuan akademiknya.
Di sisi lain, empati menjadi keterampilan yang semakin penting di era modern. Kemajuan teknologi justru berpotensi membuat manusia semakin individual jika tidak diimbangi dengan pendidikan hati. Anak-anak begitu mudah terhubung melalui media sosial, tetapi belum tentu mampu membangun hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka bisa memiliki ribuan teman di dunia maya, tetapi kesulitan memahami kesedihan teman yang duduk di sampingnya.
Sekolah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ruang-ruang yang menumbuhkan empati. Kegiatan bakti sosial, pembelajaran kolaboratif, layanan teman sebaya, maupun proyek pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar aktivitas tambahan. Semua itu merupakan latihan agar siswa belajar mendengarkan, menghargai, dan peduli terhadap kehidupan orang lain. Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang pintar, tetapi oleh manusia yang memiliki kepedulian sosial.
Selain empati, disiplin tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Sayangnya, disiplin sering kali dipahami sebatas kepatuhan terhadap aturan. Padahal disiplin sejati adalah kesadaran untuk melakukan hal yang benar meskipun tidak ada yang mengawasi. Disiplin berarti bertanggung jawab terhadap waktu, tugas, komitmen, dan pilihan hidup.
Membangun disiplin membutuhkan konsistensi, bukan hukuman semata. Sekolah perlu menciptakan budaya yang memberikan contoh, penghargaan, sekaligus konsekuensi yang adil. Ketika siswa memahami alasan di balik setiap aturan, mereka tidak sekadar takut melanggar, tetapi juga menyadari pentingnya hidup tertib sebagai bekal bermasyarakat.
Tantangan berikutnya adalah literasi digital. Dunia anak-anak saat ini tidak bisa dipisahkan dari gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan. Teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Persoalannya bukan lagi apakah anak boleh menggunakan teknologi, melainkan apakah mereka mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.
Literasi digital bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat elektronik. Lebih dari itu, literasi digital adalah kemampuan menyaring informasi, mengenali berita bohong, menjaga etika dalam berkomunikasi, menghormati privasi orang lain, serta memanfaatkan teknologi untuk belajar dan berkarya.
Di sinilah sekolah harus mengambil peran strategis. Guru tidak boleh hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga pendamping yang membimbing siswa menghadapi dunia digital. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa jejak digital dapat memengaruhi masa depan mereka. Mereka juga perlu dibiasakan menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya, bukan sekadar menghabiskan waktu sebagai konsumen konten.
Banyuwangi yang terus berkembang sebagai daerah pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif membutuhkan generasi yang memiliki kemampuan tersebut. Masa depan daerah ini tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya. Investasi terbesar bukanlah gedung yang megah, melainkan manusia yang berkarakter.
Karena itu, keberhasilan sekolah seharusnya tidak hanya diukur dari rata-rata nilai ujian atau jumlah siswa yang diterima di sekolah unggulan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana sekolah berhasil melahirkan generasi yang jujur ketika tidak diawasi, peduli ketika orang lain membutuhkan bantuan, disiplin dalam menjalankan amanah, serta bijak memanfaatkan teknologi.
Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membuat seorang anak tidak hanya pandai menjawab soal, tetapi juga mampu menjawab tantangan kehidupan. Anak-anak yang kelak menjadi pemimpin, guru, tenaga kesehatan, pengusaha, petani, birokrat, maupun profesi lainnya membutuhkan fondasi karakter yang sama kuatnya dengan kemampuan akademik mereka.
Ki Hadjar Dewantara pernah mengingatkan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pesan itu tetap relevan hingga hari ini. Pendidikan bukan sekadar mempersiapkan anak menghadapi ujian, melainkan mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.
Pada akhirnya, kita semua guru, orang tua, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha memiliki tanggung jawab yang sama. Pendidikan karakter tidak mungkin berhasil jika hanya dibebankan kepada sekolah. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang menghadirkan keteladanan secara bersama-sama.
Kabupaten Banyuwangi memiliki modal budaya, semangat gotong royong, serta komitmen yang kuat terhadap kemajuan pendidikan. Modal itu akan menjadi kekuatan besar apabila seluruh elemen masyarakat bergerak dalam visi yang sama: membangun manusia, bukan sekadar menghasilkan lulusan.
Sebab sejarah tidak akan mengenang berapa banyak siswa yang lulus dengan nilai sempurna. Sejarah akan mengingat berapa banyak manusia baik yang lahir dari ruang-ruang kelas. Dan itulah sesungguhnya makna terdalam pendidikan mendidik manusia, bukan hanya meluluskan siswa.
M.R. WARANG AGUNG, ST
Madrasah Tahfidzul Qur’an (MATIQ) Al Uswah Banyuwangi






