Caption: acara perayaan ngruwat desa Dadap kuning di cerme Gresik ( dok: noeradi/ detikposnews.com)
Gresik – detikposnew –
.Pemerintahan Desa Dadap kuning, Kecamatan Cerme, Gresik, kembali menggelar tradisi leluhur sedekah bumi“Ngeruwat Desa”. Ratusan warga dari berbagai rt/rw berbondong-bondong ke balai desa dan punden desa untuk memanjatkan doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan untuk seluruh warga, acara ngruwat desa ini di kenal dengan tradisi tolak bala, Sabtu ( 30/05/2026 ).
Hadir di acara tersebut, forkomfincam cerme , kepala desa Dadap kuning, H. Saikun, tokoh masyarakat, tokoh ulama dan tokoh pemuda serta masyarakat sekitar.
Acara awali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan kirab gunungan hasil bumi yang diarak keliling desa.
Kirap gunungan ini isinya padi, buah, sayur, dan jajanan pasar. Gunungan ini melambangkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan selama setempat.
Dalam sambutannya nya kepala desa Dadap kuning H. Saikun menyampaikan, bahwa kemajuan pembangunan di desanya mengalami perkembangan yang sangat pesat, dengan adanya pembangunan didesanya, banyak sekali menyerap tenaga kerja lokal, hingga 80%.
” Dengan perkembangan pembangunan didesa, Alhamdulillah bisa menyerap tenaga kerja lokal hingga 80% , dan bisa membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar,” tuturnya.
Sementara, camat cerme H. Umar Hasyim mengatakan dalam sambutannya, laju pembangunan di desa Dadap kuning sangat luar biasa pesat, ini menandakan koordinasi dan kerjasama antara, pemerintah dan masyarakat bisa berjalan seiring seirama. Dengan tujuan yang sama yakni mensejahterakan tarap hidup masyarakat dan memajukan pembangunan di semua sektor.
” Saya mengapresiasi atas laju pembangunan di kecamatan cerme khususnya desa Dadap kuning, sangat maju dan bersinergi dengan semua lintas sektoral,” ucapnya.
Sesepuh desa memimpin ritual “ruwat” di punden sesepuh. Dengan membacakan mantra doa Jawa, sesajen ditata, kemenyan dibakar, dan air kembang setaman dipercikkan ke penjuru desa sebagai simbol membersihkan desa dari bala, penyakit, dan energi negatif.
Sebagai puncak perayaan, dimalam harinya masyarakat disuguhkan dengan hiburan wayang kulit.
Lebih lanjut, H saikun panggilan akrab kepala desa Dadap Kuning, menambahkan, tradisi ngruwat desa ini, bukanlah hal yang berbau klenik, melainkan tradisi leluhur yang harus di lestarikan, karena di dalamnya terkandung makna sebagai bentuk syukur kita kepada sang pencipta alam semesta ini.
“Tradisi ngeruwat ini bukan klenik, tapi bentuk syukur kepada sang pencipta alam semesta atas berkahan rahmad, rezeki yang melimpah kepada kami, dan tradisi ini perlu di lestarikan agar menjadi pelajaran yang berharga buat generasi berikutnya,” tuturnya.
Ia berharap, dengan melestarikan tradisi dan budaya ngruwat desa ini, desa Dadap Kuning senantiasa di beri keberkahan, rezeki yang melimpah, kedamaian, ketentraman, aman, nyaman dan kondusif.
“Dengan melestarikan tradisi dan budaya gruwat desa ini, kami berharap, masyarakat Dadap kuning senantiasa di beri kelancaran dan kemudahan rezeki yang melimpah, aman, nyaman, damai , tentram dan kondusif,” ucapnya.
Di tengah modernisasi, H. Saikun melanjutkan, Ngeruwat Desa Dadap kuning tetap hidup. Karena bagi warga Cerme, menjaga tradisi berarti menjaga identitas dan kebersamaan.
“Di era globalisasi dan moderenisasi, ngruwat desa tetap hidup lestari, karena bagi warga cerme, menjaga tradisi berarti menjaga identitas leluhur dan kebersamaan,” pungkasnya.
Penulis: Noradi
Editor. : Soleh
Sumber: detikposnews.com




